HMS Logistik

#

2019 Angkutan Semen di Indonesia Butuh Tambahan 14.000 Truk Baru

JAKARTA (BeritaTrans.com)  Direktur Pembina Keselamatan (Dirbinkes) Ditjen Perhubungan Darat (Hubdat) Kementerian Perhubungan (Kemenhub) M.Risal Wasal mengatakan, penertiban truk yang melanggar ODOL membuka peluang investasi baru, terutama bagi pengusaha angkutan barang di Indonesia.

Assosiasi Semen Indonesia (ASI) melaporkan, permintaan konsumsi semen nasional tahun 2019 diprediksi naik 14%. Jika penertiban ODOL berjalan lancar dan tahun depan sudah zero, maka butuh tambahan 14.000 armada truk baru untuk mengangkut semen ke konsumen, kata Risal Wasal pada dialog publik mengenai ODOL di Jakarta, Rabu (3/10/2018).

Menurutnya, memang ada komoditas yang masih mendapatkan dispensasi melebihi kapasitas normal, yaitu semen, baja dan airmineral serta bahan kebutuhan pokok (sembako). Disoensasi itu hanya dberikan sampai enam bulan saja, sebut alumni STTD Bekasi.

Saat ODOl sudah tidak diizinkan lagi, maka angkutan semen harus tambah armada truk, atau beralih menggunakan kereta api (KA) atau kapal roro, jelas Risal.

Namun jika nanti angkutan komoditas semen akan tetap menggunakan truk, maka dibutuhkan tambahan armada baru sebanyak 14.000 unit. Ini yan harus diantisipasi khususnya para pihak terkait baik industri semen atau pengusaha angkutan barang di Tanah Air, papar Risal.

Investasi Rp14 Triliun

Pada kesempatan terpisah, Wakil Ketua DPP Aptrindo Kyatmadja Lookman mengatakan, jika satu truk harganya Rp1 miliar, maka dibutuhkan investasi baru sekitar Rp14 triliun.

Ini peluang sekaligus tantangan bagi kami pelaku usaha angkutan barang di Indonesia baik Aptrindo atau Organda, papar Kyat, sapaan akrab dia.

Kendati begitu, menurut Kyat persingan di bisnis angkutan barang saat ini demikian ketat. Peluang ada, tapi dibutuhkan kerja keras sekaligus perbaikan pelayanan kepada konsumennya, terang Kyat.

Selain truk anggota Aptrindo dan Organda, juga ada KA Barang. Pemerintah khususnya Kemenhub mengupayakan mengalihkan beban dan kepadatan / macet di jalan raya dan dialihkan ke moda KA.

Jika nanti ada pangsa angkutan semen yang makin besar, harus tetap mengedepankan aspek pelayanan. Siapapun yang memberikan pelayanan terbaik dan harga bersaing akan bertahan. Jika tidak maka bukan tidak mungkin akan ditinggalkan konsumen, tegas Kyatmadja.(helmi)

Postingan sebelumnya Postingan selanjutnya

Comment(0)

Tinggalkan komentar

Chat with us